Kenangan
bersamamu selalu kubawa pergi. Menapaki jejak-jejak langkahku yang
sedetik ini masih tertata rapi di sudut-sudut rongga hatiku. Sesuatu
yang tak kan pernah kulupa tatkala jemarimu menyapu air mataku di kala
pilu melanda batinku seakan kutenggelam bersamanya, duka yang dalam
hilang serasa tak membekas.
Tapi kepiluan yang paling
mengiris hatiku ketika kejujuranmu berkata bahwa dia milikmu. Senyumku
saat itu sangat kontras dengan hatiku yang bagai disayat sembilu,
perihhhh…. Dan entah mengapa, aku hanya bisa lari dari hadapanmu menuju
persembunyianku. Tangis ku tumpah sendiri, kau pun tak pernah tau.
Dulu
saat tak ada orang yang mau mendengarmu, aku selalu setia mengulurkan
tangan. Kau tau itu. Beban-beban yang berat kau simpan sendiri, kau
percayakan padaku. Ketika ada kristal bening turun dari matamu, ingin
kusentuh dengan jemariku, ingin kuhapus duka didalam dirimu, agar tak
ada lagi kesedihan yang datang dalam dirimu. Tapi aku hanya bisa
memandangmu dari sudut mataku, bahkan aku harus berpikir dua kali untuk
melakukan itu.
Kini aku…kau…tak kan pernah tau apa yang
terjadi di antara kita. Kita bersama memutuskan hal yang kita tau tak
bisa membahagiakan kita. Aku terpaksa menerima cinta orang lain yang
begitu baik terhadapku karena kupikir kau hanya menganggap aku tak lebih
dari seorang adik. Walaupun aku begitu cemburu melihat kau berdua
dengannya. Ingin kutampar wajah gadis yang telah merebut tempat candaku,
tempat berbagiku.
Aku mencoba tak peduli padamu tapi kau
marah, kau bilang aku berubah. Ya, ku akui itu. Tapi bolehkah aku
bertanya, apakah kejujuranmu kala itu benar berasal dari relung
hatimu??? Aku akan selalu menunggu jawaban itu, meskipun tak ada
keberanian sedikitpun untuk bertanya padamu.
Satu tahun
sudah tak ada yang mengisi kekosongan dihatiku, aku larut dalam
sendiriku. Tirai di hatiku terdiam tak pernah tau siapa yang akan
membukanya. Biarlah aku tersenyum menunggu kapan kita akan berjumpa atau
tak pernah ada jua.
Esok jika kau ingat semua kenangan
kita, tengoklah aku. Jika sedih menggelayuti dirimu, aku akan jadi embun
penyejuk. Bercanda, bercerita, tertawa, marah seperti dulu tanpa ada
orang lain yang mengusik kita. Ah, aku tak tau kapan waktu itu datang,
esok atau lusa aku menunggu.
Aku tau kau orang yang penuh impian. Raih dan junjunglah karena senyum dan doaku selalu menyertaimu.